Belakangan ini unggahan foto yang bertemakan Makassar 90’s telah ramai bersliweran di Instagram. Hal ini sebagai penanda bahwa mereka yang telah mengunggah foto pribadi dengan bingkai foto berlatar desain Makassar 90”s adalah bagian dari generasi 90-an.
Latar belakang utama lahirnya tren tersebut adalah sebagai ajang nostalgia mengenang masa lalu berupa cerita, peristiwa, ataupun kisah semasa kecil yang khas dialami oleh mereka yang lahir 1990-an.
Konsep Makassar 90’s sendiri lahir pertama kali pada awal tahun 2015 dan akan dieksekusi kedalam bentuk acara-acara kolektif pada tahun 2017. Namun tidak menutup kemungkinan jika gerakan nostalgia tersebut telah ada pada tahun-tahun sebelumnya yang sifatnya masih sporadis dan periphery (pinggiran).
Adapun bentuk manifestasi gerakan Makassar 90’s ini akan menyasar berbagai dimensi kultural mulai dari pakaian, film, makanan, permainan hingga musik dan transportasi. Seluruh produk kultural tersebut yang lahir pada dekade 90-an ingin dimunculkan kembali hari ini – jika bukan fisiknya, minimal nuansa nya, sebagai penanda jika generasi yang lahir pada dekade 90-an rindu dengan hal-hal yang bernuansa 90-an.
Euforia Tampil Eksklusif Lewat Media Populer
Hadirnya Makassar 90’s sebagai gerakan terorganisir – jika tidak ingin dikata serampangan, akan diluncurkan secara perdana pada acara festival yang akan dihelat pada tanggal 5-6 Mei 2017 mendatang.
Seperti yang dilansir dalam laman resmi Makassar 90’s (makassar90s.com) bahwa festival tersebut akan dimeriahkan oleh berbagai item acara mulai dari konser musik, talkshow, pameran kuliner, dan tentunya dandanan pengunjung ala 90-an.
Untuk membedakan dengan acara – acara gerak jalan atau acara filantropis industri rokok, berbagai item acara tersebut tentunya akan dikomodifikasi sedemikian rupa hingga melahirkan kemasan atmosfer khas 90-an.
Lebih jauh, jika ditilik dari landasan filosofis lahirnya gerakan Makassar 90’s ini, pada dasarnya ini sebagai upaya menangkal hegemoni budaya pop (budaya yang diproduksi dan dikonsumsi secara massal) yang tengah digandrungi oleh kawula muda kekinian.
Budaya pop yang notabenenya menawarkan keseragaman ini dinilai telah memperkosa “eksklusifitas” dan “ciri khas” kedirian individu tertentu. Sehingga bagi segelintir individu yang selalu ingin tampil “berbeda” dari individu lainnya terpaksa harus memeras energi dan materi berlebih demi merawat ke-berbeda-annya.
Derasnya arus informasi dan kemutakhiran perangkat teknologi sangat mendukung tumbuh suburnya budaya pop. Masifnya imitasi produk (KW) telah membuka jalan selebar-lebarnya bagi sesiapa saja yang ingin mengkonsumsi sebuah komoditi.
Sebagai contoh, produk sepatu Nike yang notabenenya adalah budaya elit (hanya digunakan oleh segelintir orang) kini harus merelakan diri dinikmati oleh khalayak ramai. Mulai dari pelacur hingga penjual beras kencur kini dapat memakai produk sepatu Nike tersebut (terlepas original atau like new).
Gerakan Makassar 90’s sebagai sebuah gerakan eksklusif telah menjadi alternatif bagi kawula muda yang merasa cemas dengan hegemoni budaya pop. Berdandan ala 90-an dengan kemeja flannel dipadu celana cutbray atau overalls, sembari mendengar musik indie, hingga mengendarai motor CB adalah deret laku kawula muda era 90-an yang coba ingin dibangkitkan kembali. Maka dengannya, individu yang ingin menyalurkan hasrat ke-berbeda-anya dapat memilih alternatif ini.
Namun satu hal yang patut dicatat bahwa ditengah era narsistik dan materialistik hari ini, kini memilih untuk tampil “berbeda” pada hakikatnya hanyalah bersifat semu dan sementara belaka. Betapa eksklusif pun sebuah komoditas budaya, kini dapat berpotensi menjadi budaya populer dan menjadi konsumsi massal.
Kiranya demikianlah siklus budaya yang senantiasa berputar di tengah masyarakat dan itu telah diaminkan oleh Ibn Khaldun 6 abad yang lalu dalam “Mukkadimah” nya.
Apakah Makassar 90’s hanyalah Kelatahan Generasi Millenial?
Salah satu ciri khas generasi millennial adalah perangkat teknologi digital yang senantiasa hadir menemani kesehariannya. Mereka adalah generasi yang akrab dengan internet dan sangat aktif dalam media jejaring sosial.
Mereka juga dikenal sebagai generasi yang egosentris, berpusat pada diri sendiri, senang unjuk diri dan tampil beda. Majalah Time menyebut generasi ini sebagai “me me me generation”.
Hadirnya gerakan Makassar 90’s yang mana dipelopori oleh generasi millennial khususnya bagi generasi yang lahir pada dekade 90-an terkadang mengundang kelatahan tersendiri.
Bentuk yang paling konkret dari kelatahan tersebut adalah narsisme yang ikut-ikutan (just follow the crowd). Mereka biasanya mempublikasi atau melakukan sesuatu tanpa mengetahui persis seluk beluk dari sesuatu tersebut atau dengan kata lain tidak ada proses tabayyun terhadapnya. Hanya demi mendapat pengakuan atas ke-berbeda-annya dengan gegabah mereka harus tenggelam mengikuti derasnya arus tersebut.
Tanpa berupaya menghadirkan sinisme terhadap gerakan Makassar 90’s, namun jika mau secara jujur, hanya berapa persen yang paham betul atau minimal mengetahui landasan dan alasan hadirnya gerakan Makassar 90’s ini.
Jika hanya ikut menenggelamkan diri di tengah keriuhan nostalgia ini demi menyandang status dan mendapat pengakuan sebagai kelompok eksklusif yang rindu akan nuansa era 90-an, bukankah itu sebuah bentuk kelatahan diri ?
Sekali lagi, tidak ada yang keliru dari gerakan ini, karena menjadi berbeda adalah perbedaan yang niscaya dan harus senantiasa dirawat, dilestarikan di tengah arus masyarakat tontonan (La société du spectacle), pikirku.


