“Arbeit macht frei” alias “kerja membuatmu bebas”
Demikianlah slogan yang menyambut siapa pun yang melangkah ke kamp konsentrasi di Auschwitz, Polandia. Tempat ini dulunya adalah sebuah arena perjudian hidup dan mati oleh ribuan tahanan Yahudi maupun yang dilabeli keturunan Yahudi.
Seruan moral itu sesungguhnya terinspirasi dari novel Jerman karya Lorenz Deifenbach yang kemudian digunakan elit Nazi untuk mempropagandakan semangat para tahanan kamp untuk bekerja secara paksa.
Pertanyaannya kemudian, apakah hari ini masih ada yang namanya kerja paksa?
Jawabannya tentu tidak, jika yang dimaksudkan kerja paksa ala kamp konsentrasi Nazi. Namun dalam situasi dan kondisi tertentu, nuansa dan paradigma berpikirnya bisa ditemukan dalam dunia kerja modern hari ini.
Orang-orang modern memang tidak lagi dipekerjakan di bawah todongan senjata. Tapi tuntutan untuk terus tampil produktif, multi-tasking, side-hustle adalah bahasa halus dari “kerja paksa”.
Singkatnya, kita memang tidak bekerja di dalam penjara ala kamp konsentrasi, tapi kita berpindah tempat dari kawat berduri ke meja kerja yang penuh suara notifikasi.
Lantas apakah memang kerja selalu identik dengan eksploitasi tanpa henti? Atau sebenarnya adakah bentuk lain dari kerja yang justru membuat kita tetap produktif sekaligus merasa bebas?
Mari Telusuri Evolusi Pemaknaan Kerja
Menurut Frans Magnis Suseno (2009), refleksi filosofis tentang makna kerja dapat ditemukan sejak 2400 tahun yang lalu.
Pada masa itu, Hesiodotus menulis sebuah puisi tentang kerja yang berjudul work and days (versi inggris) yang didalamnya ia merefleksikan bahwa kerja adalah hakikat dari kehidupan manusia.
Bergeser ke masa teologi Romawi abad pertengahan, para Rahib Benedictus merefleksikan kerja sebagai sesuatu yang suci sekaligus sebagai bentuk pengabdian. Selain sembahyang, umat tetap bekerja di ladang dan sawah secara bergantian.
Begitupun dengan pemaknaan kerja dalam tradisi Islam yang mana aktivitas kerja bisa dianggap sebagai aktivitas ibadah yang memiliki banyak keutamaan. Sebagaimana sabda Nabi SAW:
“Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar” (HR. Muslim no. 995).
Namun memasuki abad modern, pemaknaan kerja menjadi bergeser. Kerja hanya dimaknai sebagai aktivitas mengumpulkan materi (uang) semata. Paradigma kerja yang ditanamkan adalah “time is money” ala Benjamin Franklin.
Bahkan tidak asing di telinga terdengar narasi yang berkata “kerja yang benar itu cukup datang ke kantor, lakukan tugas hingga selesai, lalu pulang tanpa perlu basa-basi dan sosialisasi”.
Akhir Pekan sebagai Kompensasi Pekerja
Ketika orang-orang modern menjalani pekerjaannya dalam mode rutinitas yang menjenuhkan, maka diperlukan ruang untuk menyegarkan kembali (refreshing) otak dan ototnya. Tujuannya adalah memastikan roda-roda mesin kapitalisme terus berputar dari Senin hingga Jumat dengan durasi waktu selama 8 – 9 jam sehari.
Tentunya pihak yang paling menghayati kondisi semacam ini adalah mereka yang bertengger di level kelas buruh kasar atau tak terdidik (uneducated labour) maupun level kelas menengah.
Akibat dari pola kerja yang kaku seperti itu, para pekerja hanya bisa mengharapkan waktu akhir pekan untuk menyegarkan kembali (refreshing) otak dan ototnya.
Pada titik tertentu, waktu akhir pekan hanyalah semacam kompensasi bagi para pekerja karena mereka dapat menggunakannya untuk berlibur dan menghibur diri. Maka lahirlah kebiasaan liburan akhir pekan dan terlembagakan di tengah masyarakat modern perkotaan.
Mengenai kebiasaan berlibur akhir pekan ini, Herbert Marcuse (Filsuf Mazhab Frankfurt) menyinggungnya sebagai “masturbasi budaya”. Menurutnya, berlibur akhir pekan merupakan konsekuensi dari kenikmatan yang ditunda – tunda ketika pekerja tak lagi berkuasa atas waktunya karena harus bekerja sesuai syarat dan ketentuan para pemilik kapital.
Mengurai Filsafat Kerja
Siapa sebenarnya pekerja atau buruh itu? Apakah hanya mereka yang tergolong pekerja kasar?
Betapapun ragamnya spesialisasi dan peristilahan yang disematkan di belakang nama seorang pekerja, selama ia masih menjual tenaga & pikirannya untuk mendapatkan upah, mereka tetap tergolong kelas pekerja atau buruh.
Mulai dari tukang sapu jalanan, karyawan perhotelan, pegawai perbankan, hingga arsitek pembangunan, semuanya adalah buruh dalam level spesialisasinya masing – masing. Kita bekerja pada prinsip yang sama. Kita menukar waktu & tenaga untuk bertahan hidup.
Dalam perkembangannya, ada dua jenis buruh/pekerja. Pertama, ia yang bekerja sebagai upaya bertahan hidup (work as a job) dan kedua, ia yang bekerja sebagai panggilan hidup (work as a calling).
Pada tipe yang pertama, mereka hanya berorientasi pada bagaimana cara menghasilkan upah demi memenuhi hajat hidup. Sementara tipe yang kedua, selain memikirkan cara memperoleh penghasilan, juga memikirkan apa makna dari pekerjaan yang sedang ia jalani.
Proses mencari makna dari sebuah pekerjaan yang dijalani menjadi penting karena ketika pekerjaan kita telah kehilangan maknanya, maka kita pun kehilangan sebagian diri kita.
Karl Marx menyebut kondisi semacam itu sebagai “alienasi kerja”, yakni saat seseorang merasa terasing dan tak lagi memiliki kendali atas waktu kerjanya, hasil kerjanya bahkan rekan kerjanya. Ia bekerja bukan untuk dirinya, tapi untuk mesin kapitalisme yang terus menuntut dalam bentuk target, laporan, performa, dan KPI.
Strategi Mewujudkan Kerja yang Membebaskan
Buya Hamka pernah berpesan bahwa “Jika hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Jika kerja sekedar kerja, kera juga bekerja”.
Terang, dari petuah ini kita dapat memetik hikmah bahwa sejatinya pekerjaan yang dilakukan sepatutnya dimaknai dan dihayati sebagai proses meraih hakikat kehidupan.
Sebab yang membedakan kerja manusia dengan kerja mesin adalah kemampuan manusia menghadirkan kesadaran jiwanya dalam melakukan sesuatu. Martin Heidegger menyebutnya sebagai “proses mengada” dalam waktu otentik (Das Sein).
Marcuse juga membedakan antara istilah “buruh” dan “pekerja”. Buruh adalah orang yang bekerja dengan menindas jiwanya, kerja hanya semacam bentuk keterpaksaan dan penindasan.
Sebaliknya, pekerja adalah orang yang bekerja dengan mengikutsertakan jiwanya, kerja dihayati sebagai sumber kebahagiaan dan kebebasan. Tak berlebihan jika Marx mengatakan bahwa jika kau merasa menderita dalam kerjamu, maka sebenarnya kau bekerja bukan untuk dirimu, tetapi untuk orang lain (bosmu).
Tetapi kesemuanya itu hanyalah omong kosong belaka apabila sistem kerja juga belum mendukung. Jika standar pengupahan belum mensejahterakan, durasi kerja masih mengekang, serta iklim kerja tak memberdayakan, maka sulit untuk mewujudkan kerja yang membebaskan itu.
….
Lantas, jika sudah seperti ini potret umum para pekerja yang tak memiliki kuasa penuh atas dirinya, maka slogan “kerja membuatmu bebas” hanyalah tinggal kata tak bermakna.
Terang, kesuksesan pekerjaan seseorang semestinya tidak melulu dinilai dari seberapa banyak upah yang ia peroleh, tetapi seberapa bahagia jiwanya dalam menyelesaikan tupoksinya.
Bukankah di balik ketekunan dan komitmen orang Jepang dalam bekerja terdapat indeks bunuh diri yang cukup tinggi disebabkan oleh rutinitas kerja yang menjenuhkan sarat tuntutan? Oleh sebab itu, kerja bukan hanya tentang upah yang melimpah, tetapi mesti ditopang oleh jiwa yang merdeka.


