Ataraxia: Hidup Bahagia menurut Filsafat Stoikisme

Buku Ataraxia, Hidup Bahagia ala Stoikisme

Penulis : A. Setyo Wibowo

Tahun : 2022

Penerbit : Kanisius

Halaman : 221

 

Di tengah zaman yang serba cepat hari ini, orang-orang modern dituntut agar bisa hidup seirama dengan kecepatan teknologi dan informasi. 

Senada dengan itu, orang-orang juga berlomba menjadi sosok yang paling cepat sukses, cepat mapan, cepat populer, tercepat tahu informasi, tercepat memiliki barang ini dan itu.

Akibatnya, hari ini kita lebih cenderung dikelilingi oleh orang-orang yang stress, kesepian, bingung, serta lelah mental menghadapi tuntutan hidup yang mesti serba cepat tersebut. Tidak heran jika narasi hidup bahagia, hidup bermakna atau slow living sedang naik daun belakangan ini.

Nah dalam buku Ataraxia ini, Romo Setyo mencoba menyelami mutiara kebijaksanaan hidup dari para pemikir Stoik. Lewat buku yang tebalnya hanya 221 halaman ini, Ia menggali perspektif berusia 2000 tahun tentang apa itu hidup bahagia.

Buku ini bisa dibilang buku “tahap lanjut” versi Indonesia bagi Anda yang telah membaca buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring.

Tidak hanya membahas konteks sejarah Stoikisme secara proporsional, tapi Romo Setyo juga membedah landasan Epistemologis pemikiran Stoikisme sehingga bisa melahirkan sikap hidup yang banyak menjadi rujukan orang modern hari ini.

***

Dari pembacaan saya atas buku ini, setidaknya ada 5 gagasan utama tentang seni hidup bahagia ala pemikir Stoik. Berikut penjelasannya.

Pertama, filsafat Stoik menganjurkan latihan pengendalian nafsu yang berlebihan

Menurut kalian apa yang membuat seseorang tidak bahagia dan tidak tenang? Di mata kaum stoik, jawabannya adalah bersarangnya emosi negatif, yakni segala macam nafsu atau hasrat yang berlebihan akan sesuatu.

Ajaran Stoikisme bertujuan menuntun langkah manusia mencapai titik kemerdekaan diri (autarkeia) dan bahagia (Ataraxia).

Definisi hidup bahagia bukan ketika kita bisa memiliki banyak hal, tapi justru ketika diri kita dijauhkan dari segala macam hasrat untuk memiliki banyak hal.

Ingin punya ini, ingin punya itu. Sudah punya satu, mau punya dua. Kita mengira kebahagiaan terletak pada keberhasilan memenuhi seluruh nafsu kita.

Watak dasar manusia memang tidak pernah puas akan sesuatu, sehingga seringkali kita terperangkap dengan pengejaran dunia yang tiada habisnya.

Poinnya adalah mengendalikan bukan menghilangkan nafsu. Hal tersebut dapat diperoleh melalui latihan mengendalikan hasrat.

Kedua, Stoikisme mengajarkan latihan dikotomi kendali pikiran

Bagi kaum Stoik, kita perlu sepenuhnya menyadari bahwa dalam hidup ini “ada sesuatu yang bisa kita kontrol” dan “ada yang tidak bisa kita kontrol”.

Definisi hidup tenang dan bahagia adalah ketika kita mampu menyalurkan energi dan fokus hidup kita hanya pada sesuatu yang bisa kita kendalikan, yakni pikiran kita.

Kita tidak mungkin bisa mengatur bagaimana seharusnya orang lain melihat diri kita. Kita tidak mungkin bisa mengendalikan semua orang harus berbuat baik pada kita, menghormati kita atau menyanjung kita.

Namun keputusan untuk meresponnya sepenuhnya ada pada kendali kita. 

Mau mengabaikannya atau merasa terbebani dengan penilaian orang lain, kitalah yang menentukannya.

Begitupun juga kita tidak mungkin bisa memastikan kapan kita sehat terus, sejahtera terus, hidup aman dan nyaman terus, bahkan hidup terus menerus. Karena semuanya di luar kendali kita.

Namun pilihan untuk mengikuti pola hidup sehat, hidup hemat, dan hidup taat aturan, sepenuhnya ada pada kendali kita.

Kita hanya perlu latihan memilih dan memilah mana hal-hal yang bisa kita kontrol atau tidak. Dan sayangnya, hanya satu yang bisa kita kendalikan sepenuhnya, yakni pikiran kita.

Maka lewat latihan kendali pikiran, jiwa kita seyogyanya akan dibebaskan dari segala keresahan, over-thinking, maupun rasa tidak puas. Dan ketenangan batin senantiasa menyertai kita.

Ketiga, filosofi Stoik menyarankan latihan hidup selaras dengan hukum alam

Keserakahan, kemunafikan, kesombongan, ketidakpedulian, kebohongan dan segala macam sifat tercela yang tidak sejalan Hukum Alam, maka tinggalkanlah. 

Definisi hidup tenang dan bahagia adalah terpeliharanya diri dari sifat-sifat tercela tersebut.

Makanan, seks, harta, tahta, dan segala macam hal yang kita tafsirkan sebagai kenikmatan adalah sah-sah saja sejauh diperoleh berdasarkan Hukum Alam (Aturan Tuhan bagi kaum beragama).

Singkatnya, kalau Anda mau bahagia dan memperoleh kepuasan batin, Anda tidak diperkenankan bertindak secara berlebihan atau melanggar di luar garis batas yang telah ditetapkan oleh-Nya.

Para pemikir Stoik menyadari bahwa semua hal di atas tidak mudah dijalani bagi kebanyakan manusia. Oleh karena itu, mereka menekankan pada kata latihan (Askesis).

Keempat, selektif dalam memilih kawan dekat

Menurut Seneca, sifat buruk mudah menular, menyebar dengan cepat pada siapapun yang berkontak dengannya. Seumpama flu, perilaku buruk seseorang mudah menular pada orang sekitar.

Stoikisme menganjurkan supaya kita selektif dalam memilih teman dekat atau sahabat. Memilih mereka yang juga komitmen terhadap kebajikan, dan hidup selaras dengan alam.

Yang penting juga diperhatikan adalah soal orientasi relasi sosial kita pada orang lain.

Bagi Stoikisme, tidak penting bagaimana orang lain melihatku, menilaiku, dan memperlakukan diriku, karena itu bersifat di luar kendaliku. 

Yang terpenting adalah bagaimana aku memperlakukan orang lain, berbuat baik pada orang lain, sebab itu di bawah kendaliku.

Oleh karena itu, kita mesti membangun relasi sosial yang tepat agar tidak mengganggu ketenangan batin kita di satu sisi, dan di sisi lain kita berupaya menebar kebaikan agar orang lain juga dapat mencapai hidup bahagia (Ataraxia).

Kelima, meluruskan cara berfikir kita atas segala sesuatu di luar kita

Setelah kita berlatih memilah apa yang ada dalam kendali kita dan di luar kendali kita. Stoikisme mengajarkan juga agar kita berlatih meluruskan cara berfikir kita pada sesuatu di luar kita.

Meluruskan cara berfikir kita khususnya pada sesuatu yang kita anggap selama ini sebagai kenikmatan sangatlah membantu melahirkan ketenangan batin.

Kita perlu membedakan antara sesuatu sebagai fakta objektif dan tafsiran kita pada sesuatu tersebut.

Misalkan hubungan seksual. Sebagai fakta objektif, hubungan seksual tidak lebih dari sekadar pertemuan dua alat kelamin, titik. Sementara nikmat atau tidaknya hubungan tersebut, itu soal tafsiran kita.

Jika kita telah terlatih berpikir lurus yakni berpikir sesuai hukum alam (hukum ilahi), maka kita akan mudah berlepas diri pada syahwat yang berlebihan, yang menjadi faktor keresahan hidup.

***

Sekarang kita sudah mengetahui bahwa sejak 2000 tahun lalu, para Bijak bestari telah meramu resep untuk hidup bahagia dan tenang. Pilihan untuk menggunakan atau mengabaikan resep tersebut, sepenuhnya pada kita.

Seumpama gas dan rem, hidup ini jangan digas terus. Perlu sesekali direm agar supaya tidak tabrakan. Bahkan perlu sesekali berhenti agar sadar tujuan hidup mau kemana.

Mengerem laju kehidupan ditempuh dengan merenungkan kembali berbagai mutiara kehidupan dari para bijak bestari. 

Di mata filsuf Stoik, masalah utama bukanlah mengubah dunia, melainkan mengubah cara pandang kita terhadap dunia.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top