Finlandia kembali dinobatkan sebagai negara paling bahagia di dunia pada 2024. Ini merupakan ketujuh kalinya negara ini mendapatkan predikat tersebut selama lima tahun berturut-turut.
Hal ini tercatat dalam World Happiness Report 2024 yang dirilis Sustainable Development Solutions Network (SDSN). SDSN mengukur indeks kebahagiaan berdasarkan survei psikologis terhadap sampel warga di tiap negara.
Lalu seperti apa ukuran kebahagiaan yang diukur oleh lembaga tersebut? Apakah Indonesia yang dikenal sebagai negara religius sekaligus juga termasuk negara bahagia?
Simak ulasan berikut ini.
Apa Ukuran Kebahagiaan menurut World Happiness Report?
Mengukur kebahagian suatu negara jelas bukan merupakan pekerjaan yang mudah, karena tidak ada standar yang baku untuk mengukurnya. Namun, hal ini bukan sesuatu yang mustahil.
Sebab, ada beberapa indikator yang bisa digunakan untuk melihat secara umum apakah penduduk atau masyarakat suatu negara merasa bahagia atau tidak. Beberapa indikator yang dimaksud misalnya terkait kualitas layanan kesehatan, harapan hidup, dan kebebasan.
Apa indikator yang digunakan oleh SDSN sehingga menetapkan 10 negara tersebut sebagai negara paling bahagia di muka bumi ini?
Mengutip laman SDSN bahwa ada 6 indikator yang digunakan di antaranya;
- produk domestik bruto per kapita,
- tingkat harapan hidup,
- kebebasan membuat pilihan sendiri,
- dukungan sosial.
- hidup layak dan
- tingkat korupsi rendah.
Adapun 10 negara paling bahagia berdasarkan skor indeks kebahagiaan yang dirilis World Happiness Report 2024 antara lain:
- Finlandia – skor indeks kebahagiaan 7.7
- Denmark – skor indeks kebahagiaan 7.5
- Islandia – skor indeks kebahagiaan 7.5
- Swedia- skor indeks kebahagiaan 7.3
- Netherlands – skor indeks kebahagiaan 7.2
- Costa Rica – skor indeks kebahagiaan 7.2
- Norwegia – skor indeks kebahagiaan 7.2
- Israel – skor indeks kebahagiaan 7.1
- Luksemburg – skor indeks kebahagiaan 7.1
- Mexico – skor indeks kebahagiaan 6.9
Bagaimana dengan Negara Paling Religius?
Dengan mengutip data yang sama dari WHR 2024, negara paling tidak bahagia adalah Afganistan diikuti Lebanon dengan skor masing-masing hanya 1.7 dan 2.7.
Tentu bukan karena nilai agamanya yang membuat mereka menderita dan tidak bahagia, tapi karena tingginya angka kemiskinan, kekurangan makanan hingga konflik berkepanjangan.
Bagaimana dengan Indonesia? Ya tidak perlu terlalu berekspektasi tinggi, sebab dari 143 negara yang disurvey, Indonesia berada di urutan 80.
Kendati negara kita dinobatkan sebagai salah satu negara paling religius di dunia oleh World Atlas dan CEOWORLD Magazine, tapi religiusitas tersebut belum mampu menurunkan tingkat korupsi dan ketimpangan sosial.
Lebih lanjut, Pew Research Center lewat surveynya, “The Global God Divide” (2020) menemukan bahwa tingkat kereligiusan seseorang dipengaruhi oleh ekonomi, tingkat pendidikan, dan usia.
Untuk Indonesia sendiri, sebanyak 96% responden Indonesia menganggap seseorang mesti beriman kepada Tuhan untuk dapat bermoral, dan 98% menganggap agama penting di hidup mereka. Indonesia bahkan mengalahkan negara-negara Islam di Timur Tengah.
Di Tunisia, negara yang keseluruhan populasinya beragama Islam, 84% respondennya menganggap keimanan berjalan beriringan dengan moral. Begitu pula dengan Turki yang nilainya 75% dan Lebanon 72%.
3 Faktor Utama Penentu Kebahagiaan
Jika agama atau religiusitas tidak memainkan peranan penting dalam mewujudkan kebahagiaan warga negara, lalu apa? Sekurang-kurangnya ada tiga faktor;
1. Social Trust
Social Trust dapat dipahami sebagai tingkat kepercayaan sesama warga negara. Jika sesama warga terbina keakraban, saling percaya, dan saling berkawan tanpa memandang latar belakangnya, maka itulah cerminan ruang publik yang nyaman.
Sebaliknya, social trust akan runtuh jika yang dikedepankan adalah narasi kebencian, kebohongan, dan perpecahan.
Berbeda pilihan politik, pecah. Berbeda ormas, ribut. Berbeda keyakinan, saling hasut. Maka mustahil akan terbentuk public trust.
2. Freedom in making life choice
Indikator ini menilai sejauh apa seseorang diberi ruang untuk memilih “takdir hidupnya”, entah agama, orientasi gender, karir, pendidikan dan seterusnya sejauh ia tidak melakukan pemaksaan.
Ia mau memilih keyakinan dari 4300 agama dan kepercayaan yang ada, adalah hak nya. Setiap warga bertanggung jawab masing-masing akan pilihan hidupnya sejauh tidak memaksa atau berbuat pidana.
Ruang publik yang disesaki intervensi ormas atau masyarakat yang tidak setuju akan pilihan personal seseorang akan mengkerdilkan kebebasan ini.
3. Social Support
Setiap warga negara akan bahagia dan nyaman hidupnya jika ditopang oleh lingkungan yang memberdayakan.
Ini dapat dijabarkan dengan melihat beberapa indikator seperti program jaminan kesehatan dan pendidikan khususnya bagi kaum papa. Akses transportasi yang memadai, ruang publik yang aman dan nyaman, dan seterusnya.
Semuanya dapat diwujudkan melalui komitmen program kesejahteraan dari Pemerintah yang tidak korup dan mementingkan kelompoknya sendiri.
Referensi:
- https://worldpopulationreview.com/country-rankings/happiest-countries-in-the-world
- https://www.statista.com/statistics/1225047/ranking-of-happiest-countries-worldwide-by-score/?srsltid=AfmBOoo6BtWlV85NtHhmAwFMrYnYQpnQou1ARHK7GF96F2eginkTrAWX
- https://en.tempo.co/read/2077334/what-are-the-last-countries-to-celebrate-new-year-the-final-countdown?tracking_page_direct
- https://www.pewresearch.org/religion/2025/06/09/how-the-global-religious-landscape-changed-from-2010-to-2020/


