Potret Manusia Abad 21: Binatang Sosial yang Terus Mencari Makna Hidupnya

Apakah kamu sering atau pernah sekali dalam hidupmu mempertanyakan “apa sebenarnya tujuan hidupku?” atau “apa makna dari hidupku?”. Kamu tidak sendirian.

Pertanyaan tentang apa tujuan hidup ini, kenapa manusia ada, kemana ia pergi setelah mati, dst, dalam banyak catatan ahli menyebutkan sudah berlangsung sejak 100 ribu tahun yang lalu. 

Setidaknya evolusi kesadaran tentang pencarian makna hidup setelah mati dimulai saat kuburan tertua di dunia berusia 78,000 tahun ditemukan di Afrika oleh Arkeolog Max Plank Institute, Jerman.

Hingga hari ini belum ada satupun jawaban yang seragam atas pertanyaan tersebut. Masing-masing orang atau komunitas masyarakat meyakini jawaban ideal sendiri sesuai sistem nilai yang dianut. 

Ada yang mencari dan menemukan makna hidupnya melalui agama. Ada yang menyandarkan arti hidupnya melalui tumpukan harta benda. Ada pula yang meyakini kebermaknaan hidupnya itu soal seberapa bermanfaat dirinya buat umat manusia.

Fase Pencarian Makna Hidup Manusia

Jika dirunutkan secara historis, ada tiga fase perjalanan pencarian makna hidup manusia;

1. Fase Narasi Mitologi

Gelombang pertama yaitu narasi mitologi. Pada masa ini orang – orang mencari jawaban atas tujuan hidupnya melalui kekeramatan dari pohon tinggi, batu besar, hewan buas, bintang matahari, dewa Zeus, hingga dewa Ahura Mazda. 

Mereka tidak tahu menjelaskan kenapa terjadi banjir bandang, petir, dan hujan sehingga diabstrasikanlah tuhan-tuhan sebagai pihak yang mengirimnya (politeisme).

2. Fase Narasi Wahyu

Gelombang kedua yaitu narasi wahyu. Tujuan dan makna hidup manusia dijawab melalui wahyu Tuhan yang diturunkan kepada sang pembawa pesan ilahi, dalam hal ini Nabi. 

Pada fase ini lahirlah berbagai agama-agama langit (samawi); Yahudi, Kristen dan Islam sejak 3000 tahun lalu. Fase ini berkembang konsep keesaan Tuhan (monoteisme).

3. Fase Narasi Sains

Gelombang ketiga yakni narasi ilmu pengetahuan. Di fase ini, panduan hidup yang bermakna dan bahagia telah dituntun oleh hasil riset-riset ilmu pengetahuan dan teknologi. 

Embrio revolusi saintek dimulai setidaknya sejak abad Renaissance (runtuhnya dominasi Gereja Romawi) dan terus disempurnakan oleh riset-riset positive psychology dan neuroscience sejak awal abad 20 (sains kehidupan).

Lalu di Mana Sumber Makna Kehidupan?

Paling kurang ada 3 sumber yang selalu dicari manusia untuk menemukan makna hidupnya;

1. Basis Spiritual

Setidaknya hingga hari ini tercatat ada 4300 agama dan aliran kepercayaan yang dianut oleh 7 milyar manusia. Berbagai penyebutan nama Tuhan Sang Maha Kuasa dipanjatkan dalam setiap rapalan doa hamba; Elohim, Yahwe, Theos, Kyros, Pater hingga Allah.

Kemudian para Rabi, Pastor, Imam, Bikshu dan filsuf bersilang pendapat tentang apa hakikat dan makna hidup ini. 

Lahirlah berbagai aliran kepercayaan Animisme, Politeisme, Monoteisme, Ateisme, Teisme, Agnositisme, Panteisme dan berbagai isme-isme lainnya yang berlomba menyuguhkan jawaban terbaik.

Peradaban manusia terus memproduksi agama dan aliran kepercayaan baru untuk memandu manusia menemukan makna dan kebahagiaan hidupnya. 

Agama paling terbaru adalah kopimisme yang berkembang dan diakui oleh pemerintah Swedia sejak 2012. Mereka meyakini informasi itu suci dan menyalin informasi adalah mulia.

Hingga hari ini, tak dapat disangsikan peran agama dalam memberikan kepastian atas pertanyaan mendasar semua umat manusia. Apa tujuan hidup, kemana kita setelah mati, bagaimana menjalani hidup yang bermakna dst, jawabannya bisa ditemukan pada masing-masing agama/aliran kepercayaan.

2. Basis Material

Sejak runtuhnya dominasi gereja Romawi pada abad 15 dan lahirnya revolusi industri pertama abad 16 -17, peta pencarian makna hidup manusia sedikit bergeser. 

Agama-agama, khususnya agama samawi dinilai tidak lagi cukup untuk memberi kepuasan hidup. Malahan pada kondisi tertentu, aturan agama hanya mengekang kebebasan dan menumpahkan darah kemanusiaan.

Atas nama Tuhan dan kesucian, perang agama dikobarkan. Tercatat selama nyaris 200 tahun (1096-1271), perang salib antara Islam dan Kristen dirayakan. Bergeser ke tahun 1618-1648, sama-sama mengatasnamakan kesucian Injil, perang Katolik dan Protestan menumbalkan 8 juta nyawa manusia dalam kurun 30 tahun.

Oleh karena itu, manusia modern memalingkan wajahnya dari spiritual ke basis material. Kemewahan, ketenaran, jabatan hingga kekuasaan adalah standar kebahagiaan dan kepuasan paling mudah diukur dan bisa diuniversalkan.

Haluan tersebut akhirnya melahirkan cara pandang dan sikap hidup seperti konsumerisme, pragmatisme hingga hedonisme. 

Benang merahnya adalah hidup dikatakan bermakna dan bahagia jika dihabiskan dalam upaya mengumpulkan harta benda, mengkonsumsi sepuasnya demi memenuhi kesenangan hidup di dunia.

3. Basis Sosial (Kemanusiaan)

Ternyata orientasi hidup pada aspek material semata mengandung sisi kelam. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sikap hidup materialistis adalah sebab dari berbagai persoalan psikologis, sosial, ekonomi, akademik, dan lingkungan yang dihadapi manusia berikut bumi tempat kita hidup hari ini.

Materialisme yang didukung sistem ekonomi kapitalisme telah menciptakan ketimpangan, kebahagiaan semu, ketidakpuasan hidup, serta tingginya tingkat stres dan depresi. Maka antitesis dari cara pandang tersebut melahirkan sikap altruisme, sosialisme, dan kolektivisme.

Dalil dasarnya kira kira begini;

Bonum communae bono privato praeferri debet

”Kepentingan umum lebih penting/harus selalu diutamakan daripada kepentingan pribadi”

Maka hidup yang bermakna bagi pandangan ini adalah ketika seseorang bisa bermanfaat sebesar-besarnya bagi orang lain.

* * *

Pada kenyataannya, ketiga orientasi dan cara hidup tersebut masih eksis hingga hari ini. Tentang mana yang paling memuaskan dalam menjawab kebermaknaan hidup itu dikembalikan pada individu masing-masing.

Soren Kierkegaard (1813‐1855) mengatakan bahwa hidup bukanlah sekedar sesuatu sebagaimana kita fikirkan, melainkan sebagaimana kita hayati. Makin mendalam penghayatan seseorang terhadap perihal kehidupan, makin bermaknalah kehidupannya.

Kebermaknaan hidup tidak muncul di luar individu. Kita sendiri yang sepenuhnya menciptakan kebermaknaan hidup masing‐masing. Maka teringat kembali renungan Jalaluddin Rumi 800 tahun lalu:

“Mulailah perjalanan panjang masuk ke dalam dirimu sendiri.”

“Mengalirlah sungai ke dalam jiwamu. Sungai kebahagiaan, Sungai makna”

Referensi Bacaan:

  • J.A, Denny. (2020). Spirituality of Happiness: Spiritualitas baru abad 21, narasi ilmu pengetahuan. Cerah Budaya Indonesia.
  • Harari, Yuval Noah. (2018). Homo Deus: Masa depan umat manusia. PT Pustaka Alvabet.
  • W, Dewantara, Agustinus. (2017). Filsafat moral: Pergumulan etis keseharian hidup manusia. Divisi Digital Kanisius.
  • Sumanto. (2006). Kajian psikologis kebermaknaan hidup. Buletin Psikologi, Vol 14 (2), 115-135. https://jurnal.ugm.ac.id/buletinpsikologi/article/download/7490/5824
  • Husna Aftina, Nurul. (2005). Orientasi hidup materialistis dan kesejahteraan psikologis. SEMINAR PSIKOLOGI & KEMANUSIAAN.
  • Cascone, Sarah. (2021). Archaeologists Have Discovered the Oldest Human Burial in Africa, Offering Clues About How Early Humans Regarded Death. (https://news.artnet.com/art-world/archaeologists-have-discovered-the-oldest-human-burial-in-africa-1965501)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top