Salah satu fenomena menarik dalam kurun 100 tahun terakhir yakni dimana “Orang Barat” mulai menguggat kerusakan yang ditimbulkan oleh sains dan teknologi.
Sejak berakhirnya dua perang dunia yang mengerikan itu, para sarjana barat mulai secara serius mencari alternatif sistem hidup lain; mereka mulai berpaling ke “Peradaban Timur” (To Thi Anh, 1984: 1-2).
Istilah “Timur” di sini biasanya mengacu pada kebudayaan besar dan telah berusia ratusan tahun lamanya, seperti tradisi Sufisme, Hinduisme, Buddhisme, Taoisme, dan isme-isme semacam lainnya.
Dalam kesempatan kali ini, yang saya bahas hanyalah Taoisme dan turun ajarannya yang berkaitan dengan konsep hidup bahagia.
Berkenalan dengan Apa itu Filsafat Taoisme
Taoisme (juga dikenal sebagai Daoisme) adalah filosofi Tiongkok yang sering disandingkan dengan nama Lao Tzu (500 SM).
Ia mengembangkan Taoisme dari agama rakyat di pedalaman Tiongkok dan menjadi agama resmi negara pada masa Dinasti Tang (Abad 6 – 9 M).
Istilah “Tao” sendiri berarti “jalan”. Konfusius memakai istilah ini sebagai ajaran yang mencerminkan cara bertindak yang benar dalam bidang moral, sosial, dan politik (Creel, 1989:107).
Singkatnya, Taoisme merupakan petunjuk bagi manusia dalam upayanya mencapai kebahagiaan hakiki, yakni melakukan segala sesuatu secara alami dan “mengikuti arus”.
Figur utama yang mengembangkan Taoisme menurut banyak sejarawan diprakarsai oleh Yang Chu sebagai pemula, kemudian tokoh yang paling populer yakni Lao Tzu, disusul dengan Chuang Tzu.
Seiring melemahnya kekuasaan Dinasti Tang, dan hadirnya ajaran Konfusianisme dan Buddhisme, Agama Tao kehilangan pamornya.
Kendati demikian, Taoisme hingga saat ini masih dipraktekkan di seluruh Tiongkok dan berbagai belahan dunia lain, termasuk di Indonesia di bawah Majelis Tridharma Indonesia.
Memahami Tao Te Ching: “Kitab Nasihat” Peninggalan Lao Tzu
Tao Te Ching adalah sebuah buku puisi/syair yang menyajikan cara sederhana mengikuti ajaran Tao.
Secara garis besar berisikan ajaran tentang bagaimana hidup berdamai dengan diri sendiri, orang lain dan dunia perubahan.
Sejarawan Sima Qian (145-86 SM) mengisahkan cerita tentang Lao Tzu yang merupakan seorang kurator sekaligus filsuf di Perpustakaan Istana di negara Chu.
Lao Tzu yang frustasi dengan kondisi negerinya dan tak mampu mengubahnya memutuskan ingin mengembara mengasingkan diri.
Sebelum berangkat, Yin Shi, penjaga gerbang meminta Lao Tzu menulis sebuah buku untuknya. Akhirnya jadilah kumpulan nasihat dari Lao Tzu yang berjudul Tao Te Ching (Buku Jalan).
Memahami Ajaran Wu Wei: Bertindak Tanpa Tindakan
Istilah Wu Wei dapat diterjemahkan sebagai “tanpa bertindak” atau “jangan berbuat apa pun” atau versi Inggrisnya “doing nothing”.
Dalam pengertiannya yang tepat, Wu Wei bukanlah seruan untuk sama sekali hidup pasif.
Wu Wei menganjurkan manusia agar berbuat sesuai dengan kodratnya, secara wajar, alamiah, tanpa dibuat-buat, tanpa rekayasa, dan tanpa tujuan memuaskan semua keinginan.
Menurut Lao Tzu bahwa manusia acapkali terlampau banyak keinginan. Celakanya, dengan memenuhi semua keinginan dan memuaskannya, ia menganggap akan hidup bahagia.
Padahal sebaliknya, inilah yang menjadi sumber penderitaan bagi manusia. Oleh sebab itu, agar tidak disesaki oleh banyak keinginan, maka manusia hendaklah memahami dan menghayati Wu Wei.
3 Kunci Ajaran Wu Wei
Secara paradoksal dapat dikatakan: Wu Wei adalah bertindak dengan tanpa tindakan. Dalam konsep Wu Wei itu sendiri, terdapat 3 kebijaksanaan yang perlu dihayati, yaitu;
Kelembutan
Konsep Wu Wei menganjurkan hiduplah seperti air. Salah satu sifat air adalah kelembutan.
Tao Te Ching bab 78 dikatakan:
“Tiada benda yang lebih lemah dari air. Tetapi tidak satu pun yang lebih kuat dari padanya dalam mengalahkan kekerasan. Untuk ini tidak ada yang bisa menggantikan.
Bahwa kelemahan mengalahkan kekerasan. Dan kelembutan mengalahkan kekakuan. Semua orang tahu itu, tetapi tidak ada yang dapat melaksanakannya”
Watak air yang lemah-lembut dan menyukai tempat rendah memberi faedah; jangan berebut dan saling bertabrakan, senantiasa hidup harmonis dengan irama kehidupan. Ia hanya “mengalir” sesuai dengan watak alamiahnya.
Dengan meneladani air, manusia diharapkan jauh dari pamrih kepentingan, keserakahan, keangkaramurkaan.
Hidup selaras dan menyatu dengan alam
Menurut ajaran Wu Wei, orang hendaknya takluk dan berserah diri pada alam, menjadi “budak” dunia.
Ini amat kontras dengan kebanyakan pemikiran Barat yang justru menempatkan manusia berhadap-hadapan dengan alam demi menaklukkan, menguasainya, dan mengeksploitasinya.
Dalam Taoisme, orang justru harus hidup selaras dan menyatu dengan alam, menghormati segala isinya, mencintainya, sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.
Kerendahan hati
Lao Tzu dalam Tao Te Ching (Bab 67) mengatakan;
“Tidak ada kutukan yang lebih besar daripada merasa kurang puas. Tidak ada dosa yang lebih besar dari pada selalu ingin memiliki”.
Semua ucapan Lao Tzu tadi tidak lain merupakan “fatwa” agar orang bersikap rendah hati.
Kutipan kata-kata Lao Tzu itu menunjukkan bahwa manusia bijaksana itu tidak pernah menonjolkan diri, tidak pula membangun ambisi, apalagi dengan cara mengorbankan pihak lain.
Referensi bacaan:
- Djoko Pitoyo, Manusia Bijaksana menurut Taoisme Jurnal Filsafat Vol. 16, Nomor 3, Desember 2006.
- https://www.tionghoa.info/perkembangan-agama-tao-di-indonesia/
- https://www.worldhistory.org/trans/id/1-14406/taoisme/


