Pernahkah Anda mendengarkan lagu baru di Spotify, membaca liriknya, lalu bergumam, “Gila, ini gue banget”?
Atau mungkin Anda pernah nonton sebuah serial Netflix dan merasa karakter utamanya merepresentasikan sifat asli Anda yang selama ini terpendam?
Ya, rasa-rasanya sensasi “keterhubungan” tersebut terasa sangat personal, intim, dan unik. Kita seakan merasa dipahami seutuhnya oleh sebuah konten digital.
Namun, coba berhenti sejenak dan lihat angka stream atau viewers-nya. Ada jutaan orang lain yang merasakan hal yang sama persis di waktu yang bersamaan.
Inilah paradoks dari budaya pop hari ini yang bekerja lewat tangan-tangan algoritma. Kita semua merasa unik tapi mengonsumsi referensi konten yang sama.
Jika ditelusuri lebih jauh, fenomena “Ini gue banget” sesungguhnya bukanlah kebetulan campur tangan semesta, melainkan hasil produksi massal kapitalisme budaya.
Maka sejatinya, selera yang Anda agung-agungkan selama ini sebagai yang paling otentik, unik, berbeda dari yang lain adalah bisa jadi hanyalah permainan tangan-tangan tak terlihat (invisible hand) dari algoritma kapitalisme platform.
Seleramu Bukan Pilihan Personal tapi Produk Sosial
Jika selama ini Anda menganggap bahwa seleramu dalam pakaian, musik, makanan hingga tontonanmu hari ini adalah murni pilihan personal, maka buanglah jauh-jauh mitos tersebut.
Jauh sebelum algoritma hadir mengintervensi selera Anda hari ini, apa yang Anda anggap keren, gaul, estetik sesungguhnya dibentuk oleh lingkaran kelas sosial-ekonomi Anda.
Perbedaan selera antara penggemar musik klasik dan dangdut, misalnya, bukan karena struktur telinga manusia berbeda, melainkan karena konstruksi sosial bekerja membentuk preferensi.
Lingkungan, pendidikan, akses budaya, dan kondisi ekonomi secara perlahan mengajari kita apa yang “layak” untuk disukai.
Logika inilah yang kemudian ingin ditelanjangi oleh Sosiolog Prancis kenamaan, Pierre Bourdieu, dalam karyanya Distinction: A Critical Judgement on Taste (1979).
Bagi Bourdieu, selera (taste) bukanlah sesuatu yang alamiah, melainkan penanda kelas sosial seseorang. Apa yang seseorang anggap “bagus”, “keren” atau “kekinian”, sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh modal budaya, sosial, dan ekonomi, serta habitus tempat seseorang dibesarkan.
Tidak hanya sampai di situ, Bourdieu menganalisis bahwa pembedaan selera ini bukan netral, melainkan ada semacam kekerasan simbolik di baliknya.
Kelas dominan merasa berhak mendefinisikan selera yang sah dan bernilai, sementara yang lain dilabeli kampungan, norak, atau tidak berkelas.
Dengan kata lain, apa yang disebut musik yang bagus, tontonan yang keren, pakaian yang modis mesti melewati screening selera kelas atas. Jika tidak, maka siap-siap dilabeli dengan selera kampungan, udik, norak, jamet, dan segala macamnya.
Ironinya, kelas menengah yang berada di persimpangan konflik budaya ini dibuat gamang dan dilema.
Sebagian memaksa mengadopsi selera kelas atas lewat kredit, paylater, dan kerja berlebih. Sebagian lain memilih jalan pintas lewat produk KW, thrifting, atau imitasi simbolik lainnya.
Kini Selera Lebih Cair Sekaligus Homogen berkat Algoritma
Hari ini, apa yang Anda yakini sebagai selera personal tidak lagi dibentuk sepenuhnya oleh kelas sosial Anda, tapi juga ada intervensi Algoritma. Kini demarkasi antara selera kelas atas dan kelas bawah nampak lebih cair tapi sekaligus homogen.
Coba identifikasi, produk apa saja yang Anda beli atau yang sekadar bertengger di keranjang kuningmu karena rekomendasi algoritma?
Begitupun seluruh tontonan film, musik, acara hingga makanan yang Anda konsumsi selama ini. Manakah yang lahir dari hasil eksplorasi mendalam dan manakah yang Anda nikmati karena direkomendasikan oleh algoritma? Lebih besar mana secara persentase?
Platform digital seperti Netflix, Spotify, Instagram atau TikTok tidak dirancang untuk membantu Anda menemukan jati diri, melainkan untuk membuat Anda bertahan selama mungkin di dalam aplikasi.
Maka ketika algoritma mampu mengelompokkan jutaan pengguna (manusia) ke dalam kotak-kotak psiko-demografi yang lebih rapi, selera pun diproduksi secara massal.
Anda merasa memilih, padahal Anda hanya dituntun melewati lorong-lorong platform digital yang sudah dipagari oleh teknologi personalisasi dan tren yang sedang viral.
Alunan musik indie yang Anda nikmati sebagai bentuk perlawanan terhadap arus utama (mainstream) kini terkesan “seragam”. Ia begitu mudah didengar lewat konten-konten FYP, iklan digital startup hingga remix DJ angkot.
Dalam fashion, kita bisa menyaksikan perubahan tren dalam satu tarikan napas. Tren “Y2K”, “Old Money”, atau “Skena” datang silih berganti. Orang-orang berlomba membeli artikel fashion tertentu bukan karena kebutuhan mendasar, tapi karena itu adalah “kostum” yang diperlukan untuk diterima dalam pergaulan sosial mereka hari ini.
Dan yang tak kalah menarik, bahasa netizen pun terstandarisasi. Penggunaan istilah psikologi pop seperti healing, toxic, gaslighting, atau bahasa gaul Jakarta Selatan, dipakai secara massal untuk melabeli perasaan yang sebenarnya kompleks.
Kita kehilangan kekayaan kosakata emosional pribadi karena lebih mudah menggunakan label yang sudah populer di media sosial.
Rapuhnya Selera dan Identitas Hari Ini
Lalu apa masalahnya jika selera kita seragam? Bukankah itu membuat kita merasa menjadi bagian dari sebuah komunitas (sense of belonging)?
Ya memang terkesan positif di satu sisi, tapi ada harga mahal yang harus dibayar, yaitu kerapuhan identitas.
Zygmunt Bauman menyebut era kita sebagai Liquid Modernity (Modernitas Cair). Di era ini, segala sesuatu, termasuk identitas, bersifat tidak tetap, terus berubah, dan tidak pasti. Ketika identitas kita dibangun sepenuhnya di atas pondasi tren konsumsi, maka identitas itu menjadi sangat rapuh.
Kita mengalami semacam kecemasan eksistensial ringan. Kita cemas jika playlist kita dianggap norak, cemas jika outfit kita sudah outdated, cemas jika kita tidak paham meme atau istilah gaul terbaru.
Kita menjadi seperti aktor yang terus-menerus berganti kostum di belakang panggung, hingga lupa wajah asli kita seperti apa.
Makna hidup tidak lagi digali dari kedalaman nilai-nilai kearifan, spiritualitas, atau kebajikan, melainkan ditempel dari luar, apa yang saya tonton, apa yang saya pakai dan apa yang saya konsumsi. Ketika tren itu berlalu, kita merasa kosong kembali.
Menyadari, Bukan Menolak
Tentu saja, tulisan ini bukan ajakan untuk membuang smartphone, berhenti langganan streaming, dan hidup menyepi di gunung. Menolak budaya pop sepenuhnya di abad ke-21 adalah tindakan yang nyaris mustahil dan mengasingkan diri secara sosial.
Budaya pop tetaplah menyenangkan. Ia adalah pelumas interaksi sosial dan sumber hiburan yang murah nan instan.
Kuncinya bukan pada penolakan, melainkan pada kesadaran (awareness). Kita perlu menyadari posisi kita dalam rantai makanan industri budaya ini.
Saat Anda merasa, “Ini gue banget,” ada baiknya bertanya: apakah ini benar-benar saya, atau ini yang pasar ingin saya rasakan?
Kita tidak harus anti terhadap apa yang populer. Namun, kita perlu menjaga jarak kritis. Jangan biarkan algoritma dan tren pasar menjadi satu-satunya lokomotif yang menuntun arah kepribadian Anda.
Sisakan ruang privat dalam jiwa Anda yang tidak bisa dijamah oleh data statistik Spotify atau tren TikTok, sebuah ruang di mana selera Anda benar-benar milik Anda sendiri, seaneh, sesunyi atau sekuno apapun itu.


