Sebagai orang yang bekerja dalam industri digital marketing, ada pakem yang perlu dipatuhi dalam pembuatan konten di media sosial, yaitu durasinya harus singkat, kalimatnya pendek dan tentu ada muatan hiburannya.
Ketika ditanya kenapa harus begitu. Jawaban singkatnya karena pasar (konsumen) sukanya yang begitu.
Dalam era ekonomi perhatian (attention economy) hari ini, jika kontenmu dalam 3 detik pertama tidak menarik, netizen akan men-skipnya.
Bahkan Isu-isu besar yang rumit macam kerusakan lingkungan, kasus korupsi atau kebijakan politik, mau tidak mau harus disederhanakan menjadi utas (thread) pendek atau infografis warna-warni yang “estetik”.
Pada akhirnya, kedalaman makna sebuah informasi seolah menguap, digantikan oleh sensasi sesaat yang cepat viral dan di saat yang bersamaan, lebih cepat lagi dilupakan.
Pertanyaannya, apakah kualitas dan daya pikir kita semakin menurun? Atau sebaliknya, justru karena rata-rata kualitas nalar kita memang di level itu sehingga industri platform digital menyesuaikannya?
Bagaimana Sebenarnya Manusia Menggunakan Otaknya?
Secara evolusioner, otak manusia adalah organ yang “hemat energi”.
Berpikir mendalam, analitis, dan reflektif membutuhkan kalori dan usaha kognitif yang besar, meminjam istilah Daniel Kahneman yang menyebutnya sebagai System Thinking 2. Sebaliknya, memproses hal-hal visual, ringan, dan emosional jauh lebih murah dan mudah atau disebut System Thinking 1.
Ketika kita hidup dalam sistem yang serba cepat hari ini, atau dromology kata Paul Virilio, di mana beban pekerjaan, tagihan, polusi dan kemacetan sudah jadi santapan harian, maka konten-konten dangkal bisa menjadi semacam oase yang menyegarkan.
Ia mudah dicerna dan mudah meningkatkan dopamin, hormon yang mengundang rasa senang. Dan platform media sosial memahami betul celah ini.
Konten yang dangkal adalah konten yang efisien. Ia minim menguras energi kognitif dan cocok untuk dinikmati di sela-sela waktu tunggu dan jenuh, entah saat dirimu di toilet, di kereta, atau sebelum tidur.
Barangkali kita menyukai kedangkalan karena ia tidak membebani kapasitas mental kita yang sudah kepayahan dihajar rutinitas dan segala macam tuntutan hidup.
Munculnya Kapitalisme Perhatian
Di balik kejenuhan individu dan candunya kita akan konten-konten dangkal yang lucu, ada kekuatan kapital yang sedang memantau.
Inilah era Ekonomi Perhatian (Attention Economy). Dalam sistem ini, mata Anda untuk melihat, tangan untuk scrolling dan waktu luang Anda adalah “komoditas” yang bernilai ekonomi bagi para pengiklan.
Platform media sosial tidak peduli apakah Anda menjadi lebih pintar atau lebih bijak setelah menggunakan aplikasi mereka. Tujuan utama mereka adalah time on site—seberapa lama Anda menatap layar.
Di sinilah peran psikologi perilaku (consumer behaviour) dimainkan. Fitur infinite scroll (gulir tanpa batas) diciptakan untuk menghilangkan titik henti (stopping cues), membuat kita terus mengonsumsi tanpa jeda untuk refleksi.
Setiap like, notifikasi, dan video baru yang Anda dapatkan bisa memberikan suntikan dopamin instan ke otak, persis seperti mekanisme mesin judi (slot machine).
Emosi instan jauh lebih laku daripada refleksi panjang. Kemarahan, tawa terbahak-bahak, atau rasa kaget adalah bahan bakar viralitas.
Dalam bukunya The Shallows, Nicholas Carr berargumen bahwa internet secara harfiah mengubah struktur otak kita, membuat kita semakin tidak mampu berkonsentrasi panjang dan kehilangan kemampuan untuk melakukan kontemplasi mendalam.
Kita menjadi “pemburu informasi” yang gesit, FOMO namun kehilangan kemampuan untuk menyelami makna.
Industri Budaya dan Matinya Nuansa
Untuk memahami fenomena ini lebih dalam, kita bisa meminjam kacamata Teori Kritis dari Mazhab Frankfurt, khususnya pemikiran Theodor Adorno dan Max Horkheimer.
Dalam konsep Industri Budaya (Culture Industry), Adorno berpendapat bahwa budaya massa di era kapitalisme diproduksi layaknya barang pabrik: terstandarisasi, mudah dikonsumsi, dan dirancang untuk membuat audiens pasif.
Konten-konten dangkal di sosmed adalah manifestasi modern dari konsep ini. Kita diberi ilusi bahwa kita “memilih” konten, padahal kita hanya disuguhi menu yang sudah dikurasi algoritma untuk mematikan daya kritis.
Selain itu, sosiolog Prancis Jean Baudrillard mungkin akan menyebut era sosmed ini sebagai puncak dari Simulacra.
Di sosmed, citra (image) menjadi lebih penting daripada realitas itu sendiri. Potongan video 30 detik dianggap mewakili kebenaran utuh. Kita merayakan “kulit” dan mengabaikan “isi”. Akibatnya, realitas menjadi datar (flattened). Tragedi kemanusiaan disandingkan sejajar dengan video prank konyol di timeline, membuat sensibilitas kita tumpul.
Apakah Konten Dangkal Selalu Buruk?
Tentu saja, menghakimi segala koten yang dangkal sebagai “sampah” adalah sikap yang elitis dan naif. Manusia membutuhkan hiburan. Kita butuh hal-hal receh untuk menjaga kewarasan. Tidak ada yang salah dengan menikmati video kucing atau joget TikTok setelah seharian bekerja keras.
Masalah muncul ketika yang dangkal menjadi dominan dan menggantikan yang substansial. Bahaya mengintai ketika kita mulai memahami sejarah hanya lewat tweet, memahami agama hanya lewat potongan video 1 menit, atau menentukan pilihan politik hanya berdasarkan gimmick joget di panggung kampanye.
Ketika menu diet informasi kita 100% terdiri dari “makanan ringan” (konten dangkal), kita akan mengalami malnutrisi intelektual. Kita menjadi masyarakat yang tahu banyak hal selewat-selewat, tapi tidak memahami apa pun secara mendalam.
Kedalaman Butuh Waktu
Melawan arus kedangkalan ini bukanlah hal mudah. Sistem algoritma dirancang untuk tidak sabar; ia menuntut atensi Anda detik ini juga, lalu membuangnya ke konten berikutnya detik berikutnya.
Kedalaman, di sisi lain, menuntut waktu. Membaca buku butuh waktu. Memahami konteks sejarah butuh waktu. Merenung butuh keheningan dan waktu. Hal-hal ini adalah musuh bagi algoritma yang menginginkan kecepatan.
Maka, di era ini, memilih untuk tidak terburu-buru adalah sebuah perlawanan. Memutuskan untuk membaca artikel panjang sampai habis, menahan diri untuk tidak berkomentar sebelum paham konteks, atau sengaja meletakkan smartphone untuk melamun, adalah bentuk pemberontakan kecil.
Kita tidak harus berhenti menikmati hal-hal dangkal, tapi pastikan kita masih menyisakan ruang di kepala untuk menyelam ke kedalaman. Sebab di permukaan air kita mungkin bisa berselancar dengan riang, tapi hanya di kedalamanlah kita bisa menemukan mutiara kebijaksanaan.


