Pernahkah kamu menyadari kalau playlist musikmu di Spotify, deretan film yang kamu nonton di Netflix, hingga sneakers atau pakaian yang ada di keranjang kuningmu adalah kerja-kerja algoritma kapitalisme?
Rasa-rasanya sulit menyangkal kalau semua barang yang kamu konsumsi hari ini adalah murni seleramu alias hasil pilihan bebasmu.
Ya, dewasa ini kita hidup di era dimana budaya populer (pop culture) menjadi kompas utama kita dalam membentuk, menentukan selera dan identitas kita.
Ia telah merembes masuk ke celah-celah kehidupan paling privat kita: ke dalam playlist musik dan film, timeline sosmed, outfit kerja dan tongkrongan, bahkan sampai cara kita memaknai patah hati dan pernikahan.
Lalu seperti apa sebenarnya algoritma kapitalisme atau industri budaya beroperasi dalam membentuk selera dan identitas kita?
Mari Kita Kenalan Lebih Jauh Apa Itu Kapitalisme Budaya
Sebenarnya apa yang penulis resahkan di atas bukanlah teori konspirasi, melainkan itu adalah realitas ekonomi-politik yang membentuk keseharian kita, yang teoritisi sosial menyebutnya sebagai kapitalisme budaya.
Kapitalisme budaya sendiri gampangnya adalah semacam kondisi di mana “produk-produk budaya” yang dulunya sarat dengan ritual sakral dan punya makna tertentu bagi sebuah komunitas, diubah menjadi komoditas.
Jika ekspresi budaya yang otentik idealnya lahir dari pemaknaan manusia atas realitas hidup yang ia jalani dalam komunitasnya, maka produk budaya di mata kapitalisme hari ini lahir dari riset pasar.
Kapitalisme mempelajari apa yang sedang kamu rasakan, lalu menciptakan produk yang seolah-olah “sangat personal” bagi kamu.
Ketika kamu mendengar lirik lagu galau misalnya, seketika kamu merasa “Wah, ini gue banget!”. Dan tentunya itu bukan kebetulan. Itu adalah hasil kalkulasi industri yang tahu persis bahwa psikografi audiens seperti kamu sedang rentan secara emosional.
Maka dalam sistem kapitalisme budaya ini, makna & produk sebuah kebudayaan diproduksi secara massal, dikemas dalam format marketing yang menarik, didistribusikan lewat algoritma, dan dijual demi profit semata.
Di sinilah letak jeniusnya kapitalisme budaya: ia menjual perasaan kita sendiri kembali kepada kita, lengkap dengan label harganya.
Budaya Pop sebagai Mesin Pembentuk Selera
Sebagaimana penulis singgung di awal bahwa apa yang kita anggap selera pribadi sejatinya adalah bentukan industri budaya. Paling gampangnya kita bisa lihat dalam musik, film, atau dunia fashion hari ini.
Misalkan kamu sedang mendengar musik dari genre tertentu hari ini. Maka sesungguhnya deretan playlist musikmu itu bukan lagi sekadar lantunan tangga nada dan suara yang indah. Ia adalah cerminan karakter emosional dan identitas sosialmu.
Ketika kamu mendaku diri sebagai penggemar indie folk, itu bukan cuma soal selera telinga, tapi soal memproyeksikan citra diri yang melankolis, artsy, dan deep.
Cara berpakaian pun demikian. Betapun unik, branded, atau skena-nya fashionmu, itu tetap kumpulan produk etalase industri budaya yang mendikte seleramu.
Begitupun dalam film dan series yang pada titik tertentu menjadi panduan moral instan. Cara kita menjalin asmara, cara kita berteman, bahkan cara kita melawan ketidakadilan, seringkali meniru skrip yang ditulis di film Action Hollywood, drama Korea Selatan atau anime Jepang. Kita belajar menjadi “keren” atau “bijak” dari karakter fiksi.
Semua terasa cair dan menghibur bukan? Padahal di baliknya ada struktur kapital yang sedang memantau. Kita merasa sedang bersenang-senang, padahal kita sedang dididik untuk menjadi konsumen yang patuh.
Aku Konsumsi maka Aku Ada
Jika Rene Descartes pernah mengguncang dunia pemikiran Eropa di abad 16 dengan mengumandangkan “Cogito Ergo Sum” (Aku berpikir maka aku ada), kini kapitalisme global memodifikasinya menjadi “Aku Konsumsi maka Aku Ada”.
Inilah inti persoalannya. Pergeseran terbesar di abad ini adalah berubahnya fungsi konsumsi dari pemenuhan kebutuhan menjadi pembentukan identitas.
Fenomena ini telah disinggung oleh Pierre Bourdieu yang menyatakan bahwa selera adalah pembeda kelas (distinction). Hari ini, selera adalah status. Apa yang kita konsumsi menjadi topeng sosial bagi kepribadian kita.
“Aku orangnya aesthetic, suka kopi artisan, dan baca buku-buku indie.”
Kalimat di atas menunjukkan bagaimana barang (kopi, buku) bukan lagi objek mati, melainkan penyusun jiwa dan siapa diri kita secara sosial.
Lalu masalahnya apa? Ya identitas kita menjadi rapuh. Ketika identitasmu disandarkan pada tren konsumsi, maka ketika tren berubah, kamu dipaksa harus ikut berubah agar tetap relevan.
Jika kepribadianmu dibangun di atas fondasi “Anak Senja”, apa yang terjadi ketika senja sudah tidak lagi dianggap keren oleh algoritma TikTok? Ya, kamu akan mengalami krisis jati diri, lalu buru-buru mencari “kulit” baru untuk dipakai.
Kamu hanya jadi bunglon yang kelelahan karena mesti terus menyesuaikan diri dengan tren yang diciptakan oleh pasar.
Pada akhirnya, kamu menjadi manusia yang cemas, takut ketinggalan (FOMO), dan tidak punya pijakan yang kuat.
Bisakah Kita Menikmati Tanpa Dikuasai?
Lantas, apakah solusinya adalah membuang semua gadget, berhenti langganan streaming, dan hidup di gua? Tentu tidak. Itu adalah solusi naif. Kita hidup di dalam sistem ini, dan tidak ada posisi yang benar-benar “murni” di luar sistem.
Kita tetap butuh hiburan. Kita tetap butuh musik untuk menemani kerja dan film untuk melepas penat.
Satu-satunya pertahanan yang mungkin kita bangun adalah jarak kritis. Kita bisa menikmati budaya pop, tapi dengan kesadaran penuh bahwa itu adalah produk, bukan kitab suci. Kita bisa menyukai sebuah brand, tapi tidak menjadikannya definisi harga diri.
Nikmatilah lagunya, tapi jangan biarkan ia mendikte seluruh suasana hatimu. Tontonlah filmnya, tapi jangan biarkan ia menjadi satu-satunya kompas moralmu.
Sebagai penutup, mari kita renungkan satu pertanyaan ini:
Jika besok internet mati, toko baju tutup, dan semua platform musik menghilang, apakah kamu masih tahu siapa dirimu sebenarnya? Atau jangan-jangan, yang tersisa hanyalah ruang kosong yang selama ini diisi oleh barang-barang yang kamu beli?


