Masih Pentingkah Mitos dalam Hidup Kita?

Belakangan ini netizen Indonesia sedang menggandrungi buku Tan Malaka yang berjudul Madilog. Setidaknya kata kunci Madilog atau Tan Malaka kembali nge-tren semenjak influencer kebanggaan kita, Ferry Irwandy, melalui Malaka Project-nya getol membahasnya.

Yang menarik dari euforia ini adalah sebagian pembaca (pemula) Madilog tanpa tedeng aling-aling menebar benih permusuhan pada segala hal yang berbau mistis, supranatural, atau TBC (Tahayul, Bid’ah, Churafat)—meminjam istilah teman-teman Salafi.

Sebagian dari mereka terkesima dengan gagasan progresif yang ditawarkan Tan Malaka soal pentingnya mengedepankan rasionalitas, bukti empiris, atau pendekatan ilmiah dalam menjelaskan lika-liku persoalan hidup.

Singkatnya, narasi yang terbangun adalah: sudah saatnya masyarakat Indonesia me-reset paradigma berpikir lama mereka yang selama ini dininabobokan dengan logika mistika. Sudah saatnya membebaskan diri dari “belenggu” cerita lama dan merangkul sepenuhnya ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tapi mari tarik napas sejenak dan berpikir ulang. Apa iya kita harus meninggalkan semua yang berbau narasi kultural atau kepercayaan warisan? Tidak adakah ruang untuk mempertemukan keduanya agar bisa menjalin kemesraan?

Perlu diingat, Tan Malaka menulis Madilog dalam konteks melawan kolonialisme dan feodalisme yang memanfaatkan kebodohan rakyat. Namun hari ini, musuh kita berbeda. Kita berhadapan dengan kekeringan makna di tengah banjir informasi. 

Sebelum melanjutkan tulisan ini, saya menyeruput kopi hitamku dulu.

***

Kenapa Sains Begitu Mempesona Hari Ini?

Tidak diragukan bahwa sains—dan anak kandungnya bernama teknologi—telah mempermudah hampir seluruh urusan umat manusia hari ini. Ia mampu menawarkan kepastian jawaban dalam bentuk angka, grafik, dan prediksi matematis atas berbagai masalah kompleks yang dihadapi.

Dari kemampuannya menjelaskan masalah perubahan iklim dan pergerakan bintang di luar angkasa, hingga kepiawaiannya membuat dapur rumah tangga mati suri akibat gempuran aplikasi makanan online, siapa yang tidak takjub dengannya?

Ketika gempa bumi terjadi misalnya, admin medsos BMKG segera mengumumkan level skala Richter dan potensi gempa susulan. Dari data itu, kita bisa menyusun langkah evakuasi dengan baik.

Atau peristiwa banjir dan tanah longsor di Sumatera yang menelan banyak korban jiwa; kita bisa mengandalkan Google Earth untuk memvisualisasikan jejak-jejak penggundulan hutan yang dilakukan oleh oligarki ekstraktif.

Dan masih banyak lagi produk sains modern yang membuat mata kita terkesima, mulai dari smartphone, smarthome, smart car sampai AI (akal imitasi) yang jadi jualan politik belakangan ini. Sains memberi kita kuasa atas “bagaimana” dunia ini bekerja.

Apakah Sains Satu-satunya Solusi?

Namun, di balik kedigdayaan sains modern dalam mempermudah kehidupan, ia tetap menyisakan lubang perangkap yang bisa mematikan sisi kemanusiaan kita. Sains bisa menjelaskan bagaimana atom bisa dibelah menjadi energi nuklir, tapi sains tidak bisa menjawab mengapa kita tidak boleh menjatuhkannya di atas kota yang dihuni warga sipil. Di sinilah sains butuh kompas, dan seringkali kompas itu tersimpan dalam narasi purba bernama mitos atau etika agama.

Lebih jauh lagi, eksploitasi sumber daya alam yang ugal-ugalan hingga kelelahan emosional adalah harga mahal yang harus dibayar manusia modern. Dengan tuntutan hidup yang serba cepat dan efisien, pada titik tertentu kita mengalami apa yang didiagnosis filsuf Byung-Chul Han sebagai Burnout Society (masyarakat kelelahan).

Segala sisi kehidupan seakan harus masuk arena perlombaan. Transportasi, komunikasi, hingga peredaran informasi beradu strategi. Paul Virilio menyebut kondisi ini sebagai Dromology (berasal dari kata Yunani dromos, lintasan balap). Dunia modern menjadi lintasan balap tanpa henti yang menekankan percepatan, sering kali mengorbankan kedalaman dan makna.

Mitos sebagai “Rem” dan Jeda

Di tengah kegilaan dromology inilah, mitos dan kearifan lokal hadir bukan sebagai takhayul bodoh, melainkan sebagai mekanisme “pengereman” tindakan manusia.

Lihatlah bagaimana masyarakat adat memiliki konsep “tanah larangan” atau tradisi “Sasi” di Maluku dan Papua yang melarang pengambilan hasil alam dalam periode tertentu. Secara sains, itu adalah konservasi. 

Namun secara kultural, mitos itu memaksa manusia untuk berhenti sejenak, menahan serakah, dan menyadari bahwa mereka bukan penguasa tunggal alam semesta. Jangan merasa penting di alam semesta ini, kita bukan satu-satunya!

Contoh lain yang paling nyata adalah kisah “Smong” di Simeulue. Ketika teknologi Early Warning System canggih membutuhkan listrik dan perawatan mahal, cerita rakyat tentang Smong justru berhasil menyelamatkan ribuan nyawa saat Tsunami 2004 hanya bermodalkan hafalan lagu pengantar tidur.

Maka, sebagai upaya mencegah dehumanisasi, merangkul kembali mitos atau spiritualitas adalah pilihan rasional. Mitos memberikan “rasa” dan “jeda” yang tidak bisa diberikan oleh algoritma. 

Setidaknya, mitologi atau agama memberi manusia jawaban atas pertanyaan mengapa, kemana kita setelah mati, apa tujuan hidup, dan kenapa kita harus menjaga alam, pertanyaan yang seringkali luput dari kalkulator sains.

***

Sebagai penutup. Mungkin jalan tengahnya bukanlah memilih salah satu, melainkan menyadari keterbatasan masing-masing. Sains tanpa mitos (etika/wisdom) adalah lumpuh, ia bisa menciptakan bom atom tanpa tahu cara mencegah kehancuran. 

Sebaliknya, mitos tanpa sains adalah buta, ia bisa membuat kita mati konyol menolak vaksin karena percaya bisikan gaib.

Sudah saatnya kita berhenti mempertandingkan keduanya di ring tinju yang sempit. Di tengah masyarakat yang semakin lelah (burnout society) dan terasing, kita memerlukan teknologi untuk bertahan hidup, tetapi kita membutuhkan cerita-cerita purba untuk memaknai hidup itu sendiri. 

Dunia terlalu luas untuk dipahami hanya dengan satu kacamata saja!

Referensi:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top