Melacak Sejarah Thrifting: Pakaian Bekas yang Kerap Diburu Anak Muda Urban

Apakah kalian pernah membeli pakaian bekas? Atau pernah mendengar istilah thrifting? Ya, bagi mereka yang ingin tampil modis dengan budget minimalis, maka thrifting adalah solusinya.

Perpaduan antara upaya mencari pakaian branded layak pakai, model yang unik, namun alokasi anggaran yang pas-pasan barangkali menjadi pengertian yang tepat untuk menggambarkan fenomena thrifting.

Namun darimana sebenarnya asal-usul kemunculan lapak-lapak yang menjajakan pakaian bekas ini? Mari kita kupas melalui uraian singkat berikut ini. 

Perbedaan Istilah Thrift, Thrifting, dan Thrift Shop

Sebelum kita menelusuri jejak-jejak historis kemunculan toko pakaian bekas, baiknya kita awali dengan pemahaman beberapa istilah yang lazim digunakan dalam dunia per-pakaian bekas-an.

Istilah thrift sendiri adalah barang bekas atau tangan kedua (secondhand) yang masih layak pakai; bisa berupa pakaian, sepatu, barang elektronik, atau benda-benda antik lainnya. 

Tidak hanya itu, ada pula produk pakaian yang tidak lolos standar industri atau tidak laku dalam jangka waktu lama, lalu diimpor untuk akhirnya dijual sebagai barang thrifting-an.

Belakangan ini muncul juga satu istilah pre-loved stuff, yakni istilah untuk barang-barang bekas pakai yang dijual secara personal dan edisi terbatas. 

Kendati sama-sama barang bekas pakai, perbedaanya hanya di penjualnya. 

Istilah berikutnya adalah thrifting itu sendiri, yakni istilah yang menggambarkan aktivitas seseorang berburu barang-barang bekas di toko khusus yang menjual barang-barang tersebut. Toko inilah yang disebut thrift shop.

Kini, ada beragam istilah yang disematkan penjual pakain bekas seperti second stuff, second store, vintage clothing store hingga nama-nama lokal. Misal pakaian bekas di Makassar disebut cakar (cap karung), orang Solo menyebutnya awul-awul, burjer di Tapanuli, cimol di Bandung, dan lelong di Kalimantan.

Sejarah Kemunculan Thrift Shop

Untuk melacak embrio kemunculan thrift shop ini, mau tidak mau kita mesti melangkah mundur ke paruh abad 18-19, yakni era revolusi industri pertama (1760 – 1840) di Eropa dan Gelombang imigrasi di Amerika.

Era Produksi Massal Pertama

Pada akhir abad 19, mulai diperkenalkan mass-production of clothing (produksi pakaian secara massal) yang mana menggeser cara pandang masyarakat saat itu tentang dunia fashion. 

Karena melimpahnya hasil produksi, maka membuat harga pakaian jadi sangat murah dan melahirkan anggapan bahwa pakaian tersebut adalah barang yang sekali pakai lalu dibuang (disposable).

Menurut sejarawan Le Zotte dalam karyanya From Goodwill to Grunge: A History of Secondhand Styles and Alternative Economies mengatakan bahwa ketika penduduk kota semakin bertumbuh, namun lahan tempat tinggal terbatas, maka membuang barang-barang seperti pakaian adalah jalan pintas.

Era Charity Shop (Lembaga Amal)

Fenomena menumpuknya pakaian – pakaian yang dibuang ini ditangkap oleh komunitas keagamaan sebagai ide bisnis yang dapat menghasilkan uang.

Muncullah nama-nama seperti Salvation Army tahun 1897 dan disusul Goodwill 5 tahun berikutnya pada 1902. Kedua NGO tersebut mencoba mengumpulkan pakaian bekas dari para warga dan sebagai imbalannya, mereka mendapat makanan dan penginapan (shelter).

Namun di benua berbeda, tepatnya di Inggris, organisasi amal serupa dinilai lebih dulu muncul dan dianggap sebagai pelopor pengumpulan barang bekas, yaitu Wolverhampton Society for the Blind, menurut laman trvst.world.

Era Great Depression (Krisis Amerika 1920) dan Perang Dunia

Ketika Great Depression melanda Amerika, banyak orang kehilangan pekerjaan dan tentu saja berefek pada menurunya daya beli masyarakat termasuk membeli pakaian baru.

Maka membeli pakaian bekas di thrift shop adalah alternatif yang dapat dijangkau. Sedangkan bagi orang-orang yang berkecukupan, tempat ini dijadikan untuk donasi pakaian mereka.

Selain itu, perang dunia I dan II juga berkontribusi terhadap penggunaan pakaian bekas sebab bahan baku untuk pakaian baru mengalami kelangkaan.

Maka, meningkatnya permintaan akan pakaian bekas mengubah pakem “tempat donasi” menjadi toko serba ada (department store).

Salah satu departement store yang mengalami pertumbuhan signifikan adalah Goodwill. Toko ini menjadi thrift shop terbesar di Amerika kala itu. Bahkan tahun 1935 ia telah memiliki hampir 100 toko di seluruh Amerika dan memiliki armada truk yang siap mengumpulkan dan menyuplai pakaian dan peralatan rumah tangga ke lebih 1000 rumah tangga Amerika.

Pencapaian Goodwill tersebut berhasil menggeser stigma dari sekadar toko pakaian bekas (junk shops) menjadi tempat beramal bagi para kelas menengah – atas (a different approach to charity).

Era 90-an – Popularitas Grunge Style dan Kurt Cobain

Tahun 90-an acapkali ditandai sebagai era Grunge, yakni satu genre pop-rock alternatif dari Amerika dan nama Kurt Cobain adalah representasi genre ini sekaligus panutan setiap remaja di masa itu.

Bersama sang istri, Courtney Love, Kurt Cobain yang identik dengan setelan ripped jeans, flannel shirt, dan layering yang cukup banyak dinilai secara tidak langsung mempromosikan “thrifting style”.

Untuk mewujudkan style tersebut, Cobain mesti berburu barang-barang seperti itu di thrift shop, karena toko retail saat itu belum menjual pakaian yang semacam ini.

Era Millennial Abad 21 – Kala Thrifting jadi Gaya Hidup

Memasuki era 2000-an, mengenakan pakaian bekas mengalami pergeseran. Hal tersebut tidak lagi sebagai cerminan ketidakmampuan seseorang dalam membeli pakaian baru, namun telah menjadi gaya hidup.

Jika ditanya faktor apa yang paling mempengaruhi pertumbuhan thrift shop, maka jawabannya adalah internet dan e-commerce.

Sementara pelopor penjualan pakaian bekas secara online di dunia adalah eBay dan Craigslist yang sudah memulai debutnya secara global pada 1995.

Kini thrift shop telah menjadi kekuatan yang menggerakkan ekonomi global. Bahkan sebuah penelitian mengungkapkan bahwa 17% konsumen Amerika membeli pakaian bekas setiap tahun.

Sementara jumlah dana yang berputar dalam transaksi pakaian bekas menurut data IBISWorld bernilai hingga $14.4 billion dan penjualan secara online mencapai $33 billion pada 2021.

Lalu Kapan Tren Thrifting Mulai di Indonesia?

Melansir laman CNN Indonesia bahwa tren membeli pakaian bekas di Indonesia diperkirakan telah ada sejak dekade 1980-an.

Sedangkan secara geografis, bisnis pakaian bekas awalnya berkembang di wilayah pesisir laut Indonesia. Wilayah-wilayah yang berbatasan dengan negara tetangga, seperti Sumatera, Batam, Kalimantan, hingga Sulawesi jadi pintu masuk impor pakaian bekas.

Semakin lama bisnis pakaian impor bekas berekspansi ke Pulau Jawa. Namun kebanyakan menjual barang tersebut dengan embel-embel “barang impor” ketimbang melabeli dagangan mereka dengan “barang bekas”.

Referensi:

  • https://www.goodwillaz.org/what-does-it-mean-to-go-thrifting-2/
  • https://ussfeed.com/a-brief-history-of-thrifting/
  • https://www.trvst.world/sustainable-living/fashion/history-of-second-hand-thrift-shopping/#:~:text=The%20first%20organization%20one%20might,thrift%20shop%20work%20in%201897.
  • https://time.com/5364170/thrift-store-history/
  • https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20221003130107-277-855671/jalan-panjang-thrifting-dari-berhemat-hingga-dianggap-keren
  • https://voi.id/bernas/20200/demi-misi-sejarah-dan-budaya-i-thrift-shop-i-baju-bekas-harusnya-memang-tak-mahal 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top