Secara naluriah, manusia adalah makhluk “penggila” kepastian. Kita mendesain hidup sedemikian rupa agar segala sesuatunya terukur, terprediksi, dan terkendali. Kita menabung untuk menjamin masa tua, kita membeli asuransi untuk menjamin kesehatan, dan kita membuat rencana lima tahunan agar karir tidak melenceng.
Mengapa? Karena pada dasarnya, kita benci dengan apa yang disebut ketidakpastian.
Baik di level makro maupun mikro, ketidakpastian adalah tamu tak diundang yang paling menyebalkan. Di level makro, kita dibuat was-was oleh berita tentang perang yang tiba-tiba meletus, krisis ekonomi global yang mengancam tabungan, atau bencana alam yang datang tanpa permisi.
Namun, ketidakpastian di level mikro seringkali jauh lebih meneror batin. Bayangkan, hari ini kamu merasa aman, tapi bisa saja besok surat pemecatan mendarat di meja kerjamu.
Hari ini keluargamu terasa harmonis, tapi siapa yang menjamin pasanganmu tidak berselingkuh besok? Atau bayangkan ketakutan orang tua ketika mendapati anaknya yang dulu imut nan lucu tiba-tiba terjerat narkoba, atau kesehatan orang tua yang mendadak runtuh dalam semalam.
Ketidakpastian itu ibarat berjalan di tengah kabut tebal di pegunungan. Ia menahan langkah kita untuk maju karena kita tidak tahu apakah di depan ada jalan rata atau jurang menganga. Kabut itu membatasi jarak pandang, membuat kita ragu, cemas, dan resah.
***
Jebakan Otak Primitif
Secara biologis, reaksi anti-ketidakpastian ini wajar. Otak primitif kita (amygdala) memang dirancang untuk mode bertahan hidup (survival mode).
Ribuan tahun lalu, suara semak bergoyang yang tidak pasti bisa berarti ada harimau yang siap menerkam. Maka, otak kita berevolusi untuk selalu waspada, mencari pola, dan menuntut jawaban pasti demi keselamatan.
Masalahnya, di dunia modern ini, “harimau” itu jarang ada. Namun, otak kita tetap merespons ketidakpastian karir atau asmara dengan kadar stres yang sama seperti dikejar predator.
Kita ingin mengontrol sebanyak mungkin variabel hidup, padahal realitasnya, hidup adalah aliran sungai yang liar dan tak bisa dibendung sepenuhnya.
Bagaimana Memaknai Ketidakpastian Hidup?
Lantas, jika mengontrol segalanya adalah hal mustahil, bagaimana kita menyikapinya? Mari kita duduk sejenak dan meminjam kacamata dari tiga pemikir besar dunia dalam memandang kabut ketidakpastian ini.
1. Søren Kierkegaard: Melompatlah! (The Leap of Faith)
Filsuf eksistensialis asal Denmark, Søren Kierkegaard, menyadari bahwa kecemasan adalah “kepingan dari kebebasan”. Kita cemas karena kita punya pilihan, tapi kita tidak tahu hasil akhirnya.
Bagi Kierkegaard, hidup yang otentik membutuhkan keberanian untuk melakukan The Leap of Faith atau lompatan keyakinan.
Seringkali, kita lumpuh karena terlalu banyak pertimbangan rasional. Kita menghitung untung-rugi di atas kertas, membuat simulasi A sampai Z, hingga akhirnya kita tidak bergerak sama sekali.
Kierkegaard mengajarkan bahwa untuk hal-hal besar dalam hidup, seperti menikah, pindah karir, atau pindah agama, kalkulasi matematis tidak akan pernah cukup.
Pada satu titik, antum harus membuang kalkulator itu dan melompat. Masuklah ke dalam ketidakpastian itu tanpa jaminan apapun.
Ketika kamu memutuskan sesuatu, jalani risiko dan konsekuensinya dengan gagah berani. Itulah satu-satunya cara menjadi manusia yang benar-benar “hidup”.
2. Zen Buddhisme: Terapkan Pikiran Sang Pemula (Shoshin)
Jika Kierkegaard meminta kita melompat, tradisi Zen mengajak kita untuk “mengosongkan gelas”. Konsep ini dikenal sebagai Shoshin atau Beginner’s Mind.
Ketakutan kita akan masa depan yang tidak pasti seringkali bersumber dari bias dan ekspektasi yang sudah mengeras di kepala kita.
Kita takut besok gagal karena kita punya definisi kaku tentang “sukses”. Kita takut kecewa karena kita punya skenario paten tentang bagaimana seharusnya hidup berjalan.
Shoshin mengajarkan kita untuk merangkul ide, perspektif, dan pengalaman baru layaknya seorang anak kecil yang baru belajar. Seorang pemula tidak takut salah, tidak punya prasangka, dan penuh rasa ingin tahu.
Jika kita memposisikan diri sebagai murid kehidupan yang abadi, ketidakpastian bukan lagi ancaman, melainkan kurikulum baru. Kita tidak perlu terlalu cemas akan masa depan, selama kita membuka diri untuk terus belajar dan bertumbuh dari apapun yang disuguhkan hari ini.
3. Ibn Arabi: Memaknai Ketidakpastian sebagai Penampakan Tuhan (Tajalli)
Dari dunia tasawuf, Syekh Akbar Ibn Arabi menawarkan pandangan yang sangat spiritual dan menenangkan. Bagi Ibn Arabi, alam semesta dan seisinya ini adalah Tajalli, yakni penampakan diri Tuhan yang berlangsung terus-menerus.
Tuhan itu Maha Hidup, Dia dinamis, tidak pernah statis. Maka, realitas hidup kita pun pasti berubah-ubah. Dalam pandangan ini, ketidakpastian bukanlah kelemahan sistem kehidupan, melainkan cara Allah membuka ruang kemungkinan.
Seringkali kita melabeli ketidakpastian sebagai “hal buruk”. Padahal, dalam kacamata Tajalli, segala bentuk penderitaan, kesengsaraan, kehilangan, atau kebingungan, hakikatnya adalah bentuk “penampakan” Tuhan.
Mungkin itu adalah wajah Tuhan yang Jalal (Maha Gagah/Keras), bukan Jamal (Maha Indah). Namun keduanya tetaplah bagian dari Tuhan.
Dengan memahami konsep ini, kita tidak lagi memusuhi ketidakpastian. Kita menerimanya sebagai bagian dari tarian Ilahi. Jika besok nasib baik datang, itu Tajalli-Nya. Jika besok ujian datang, itu pun Tajalli-Nya. Tidak ada yang sia-sia.
***
Pada akhirnya, mencoba menghilangkan ketidakpastian dari hidup sama seperti mencoba meluruskan garis pantai, sebuah pekerjaan yang sia-sia dan melelahkan.
Maka, saran terbaiknya adalah biarkanlah ketidakpastian hidup itu bermain. Biarkan ia menari-nari liar di atas panggung kehidupanmu. Jangan usir dia, tapi ajaklah berdansa.
Sisakan satu ruang kecil dalam hati dan pikiranmu untuk hal-hal yang unpredictable. Mulailah berdamai dengan skenario-skenario yang tidak tertulis di kertas rencanamu.
Dan untuk menenangkan otak primitif yang rewel itu, cobalah teknik visualisasi kaum Stoa: imajinasikan kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
Jika kamu dipecat, lalu kenapa? Jika kamu gagal, lalu kenapa? Apakah dunia kiamat? Kemungkinan besar tidak. Kamu masih bernapas, Tuhan masih ada, dan matahari esok pagi masih akan terbit.
Jadi, selamat bermain dengan misteri. Karena di balik kabut tebal itulah, seringkali pemandangan terindah sedang menunggu untuk ditemukan.


