Kita hidup di era yang diklaim paling terkoneksi sepanjang sejarah manusia. Hanya dengan satu klik di layar gawai, kita bisa melihat kehidupan orang lain, berbicara lintas benua, dan membagikan apa pun dalam hitungan detik.
Namun, ironisnya, justru di tengah gempuran notifikasi dan koneksi digital ini, banyak dari kita merasa kesepian, hampa, bahkan terputus dari diri sendiri.
Fenomena ini bukan sekadar krisis emosional. Dalam sosiologi, pengalaman semacam ini dikenal dengan istilah alienasi, yakni sebuah kondisi keterasingan manusia dari aspek penting dalam hidupnya.
Melalui tulisan ini, saya coba mengurai konsep alienasi dari kacamata para pemikir klasik dan modern, lalu mengaitkannya dengan fenomena kehampaan di era keterhubungan.
Apa Sebenarnya Itu Alienasi?
Jadi istilah alienasi atau dalam bahasa Jerman disebut Entfremdung pertama kali dipopulerkan dalam pemikiran Karl Marx di abad ke-19 dalam karyanya Economic and Philosophic Manuscripts of 1844.
Intinya, bagi Marx, alienasi (pada masa itu) adalah sebuah kondisi di mana manusia, khususnya para pekerja terasing dari proses dan hasil kerjanya, terasing sesama manusia, dan bahkan terasing dari dirinya sendiri.
Marx mengandaikan bahwa para buruh di masa itu tidak mampu menikmati karyanya sendiri. Misalkan ketika mereka membuat sepatu sebagai buah tangan sendiri, tapi mereka kebanyakan tidak bisa memiliki sepatu yang dibuatnya sendiri.
Begitupun mereka yang bekerja karena upah, bukan karena para buruh ingin bekerja sesuai kemauan dirinya sendiri tapi karena tidak adanya pilihan alias kalau tidak bekerja, ia tidak bisa memenuhi kebutuhan dasar hidupnya.
Konsep pemikiran tentang alienasi berkembang seiring waktu. Émile Durkheim menyebut fenomena serupa sebagai anomie, yaitu hilangnya norma dan arah dalam masyarakat modern. Begitu pun di abad ke-20, Erich Fromm dan Herbert Marcuse menggambarkan alienasi sebagai keterputusan manusia dari makna hidupnya akibat dominasi teknologi dan pasar.
Sementara Zygmunt Bauman, dalam Liquid Modernity, menunjukkan bahwa keterasingan hari ini tidak hanya terjadi di tempat kerja, tetapi merembes ke hubungan personal, gaya hidup, hingga identitas diri yang cair dan terus berubah. Alienasi menjadi ciri laten masyarakat modern yang terlihat sukses tapi rapuh secara emosional dan spiritual.
Bentuk Alienasi di Era Masyarakat Digital
Kalau sebelumnya alienasi atau keterasingan digambarkan dalam konteks dunia kerja pada abad 19. Saat ini, bentuk alienasi tidak lagi hanya terjadi dalam pabrik atau struktur kerja. Ia hadir melalui media sosial, algoritma, dan budaya performatif yang menciptakan realitas baru di mana kita merasa harus selalu tampil, produktif, dan bahagia, walau dalam hati sebenarnya hampa.
Pernahkah kamu tiba-tiba merasa tidak “cukup” dengan kondisi hidupmu setelah melihat pencapaian orang lain di Instagram? Atau merasa terputus meskipun ikut banyak grup WhatsApp? Inilah bentuk alienasi modern, saling terhubung tapi tidak hadir sepenuhnya, eksistensi tanpa keotentikan.
Byung-Chul Han, filsuf Korea-Jerman, dalam bukunya The Burnout Society, menjelaskan bahwa manusia modern mengalami kelelahan karena menjadi subjek yang menekan dirinya sendiri untuk terus mencapai sesuatu (achievement).
Pada akhirnya kita menjadi “budak kebebasan”, teralienasi dari tubuh, waktu luang, dan bahkan kenikmatan berdiam diri. Dunia yang terlalu cepat justru membuat kita kehilangan kedalaman.
Hampa & Sepi adalah Dampak Paling Minimal Alienasi
Alienasi bukan sekadar konsep sosiologis, tetapi memiliki implikasi nyata berupa meningkatnya gangguan kecemasan, depresi, hingga kehampaan hidup. Banyak orang merasa kehilangan makna di tengah pekerjaan yang mekanis atau kehidupan yang “dipaksa bahagia”.
Masyarakat yang terlalu fokus pada citra, kinerja, dan validasi orang lain cenderung menyingkirkan ruang untuk kontemplasi. Alienasi merampas kita dari kemungkinan menjadi manusia yang utuh, yang bisa gagal, sedih atau hanya diam tidak ngapa-ngapain.
Tapi mengenali alienasi juga bisa jadi langkah awal pemulihan. Dengan menyadari kondisi keterasingan ini, kita bisa mulai mengupayakan koneksi yang lebih otentik dengan orang lain, pekerjaan yang kita cintai, dan dengan diri sendiri.
Alienasi bukanlah kutukan abadi, tapi konsekuensi dari sistem dan budaya yang kita hidupi. Dengan memahami konsep ini, kita bisa mulai menyadari betapa pentingnya relasi yang bermakna, pekerjaan yang memberi rasa memiliki, dan waktu luang yang bukan sekadar pelarian.
Jadi, pertanyaannya: Apakah kamu benar-benar hidup terhubung, atau hanya tampak seperti itu?


